Minggu, 21 April 2024

Air di Pelupuk Mata

Waktu yang diijabah terlelapnya para pecinta dunia Mereka yang berharap dan meminta menghampar tumpuan sahaya saat bangkit akan terlihat tetesan tulus yang begitu lebat mengering tanpa sapuan gelap gulita memalam keheningan Garis kehidupan berbaris menengadah lagi, kepada siapakah? Air di Pelupuk Mata Angan bertaut ujungnya Meski tahu tidak kini tetap saja berkarut hati tak salah mengakui karena Dia seluruh dihati

Minggu, 11 Juni 2017

Mendidik Sesuai Fitrah NHW4#

Tiap pekan selalu saja membuat saya penasaran dengan NHW apa lagi yah yang akan diberikan.
Syukurnya, tiap NHW yang diberikan selalu bertolak dari NHW sebelumnya jadi, kita tidak lupa tuh materi-materi kemarin dan memang ini bukan sekedar  menyimak materi lalu kumpul tugas. Langsung dipraktekkan, masyaAllah apalagi NHW#3 sengaja tidak saya post di sini, malu boo kan diminta untuk buat surat cinta buat suami dan apa responnya...hhehe.
Oia, sebenarnya saya udah kelewat deadline untuk ngumpul NHW#4 seolanya kemarin abis perjalan jauh dari kampung suami Palopo-Maros(rumah ortu saya), dan pada saat tiba saya dan si kecil kurang sehat. Adam flu+demam+diare sedangkan saya flu+meriang+badan ngilu (mungkin pengaruh hamil yang sudah memasuki 32 week). Ditambah suami yang ngejar deadline kerja laporan, Alhamdulillah ortu dan adik saya bisa direpoti dengan kehadiran kami di rumah. Tibalah hari ini, saya sudah merasa kembali fit dan saatnya mengerjakan tugaasss. Fightingg! :D
Cekidot,
a.     Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Jawab: Baiklah, kita tengok dulu NHW#1 saya, bisa dilihat di sini.
In sya Allah saya tidak akan mengubah jurusan ilmu di universitas kehidupan ini, sebab menurut saya itu sudah satu kesatuan dalam hidup saya. Jika saya otpimal untuk mendalaminya in sya Allah pengaplikasiannya juga akan maksimal.

b.    Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
Jawab: lihat NHW32 saya di sini.
Sebenarnya, ketika saya membuat indikator Ibu Profesional tersebut saya berpatokan dari rutinitas saya tiap hari. Jadi, in sya Allah semua terlaksana dengan baik. Kecuali ketika memasuki bulan Ramadhan ini ada perubahan sedikit dan perlajanan kami ke kampung suami ketika tiba di sana pun tidak sesuai dengan apa rutinitas kami tiap hari di kontrakan.

Misi Hidup : Melakukan segala perintah dan menjauhi LaranganNya dengan cara taat pada suami, mendidk aanak sesuai fitrahnya serta menjadi warga berkontribusi dalam lingkungan.
Bidang : Psikolog tanpa licensi.
Peran : Menjadi Istri, ibu dan warga yang bermanfaat bagi sesama.

c.     Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Untuk bisa menjadi ahli dibidang Pendidikan Ibu dan Anak, Saya memerlukan ilmu-ilmu sebagai berikut :
  1. Ilmu Tazkiyatun Nafs : ilmu tentang pembersihan jiwa dari segala hal negatif.
  2. Bunda Sayang : Ilmu Mengsuh dan Mengasihi anak.
  3. Bunda Cekatan : Ilmu manajemen waktu
  4. Bunda Produktif : Ilmu ekonomi (pengaturan keuangan), bakat yang dimiliki dikelola dengna baik sehingga bermanffat untuk produktifitas di Rumah Tangga.
  5. Bunda Shaleha : Ilmu hablu minalllah dan hablu minannas.

d.    Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda.
Jawab:

Untuk Mailstone pengetahuan dasar seputar ilmu Psikologi sudah saya mulai sejak tahun 2010 ketika duduk di bangku kuliah semster satu hingga semester akhir di 2014. Untuk selanjutnya mengenai pendalmaan ilmu Agama saya mulai serius sejak duduk di bangku SMA tahun 2007. Saya menikah di tahun 2015 dan mulai memasuki babak baru dalam kehidupan yang akan terus saya upgrade hingga ajal menjemput.
Berikut Milestone yang saya tetapkan;
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Mempelajari ilmu Tazkiyatunnafs, Bunda Saleha, bunda cekatan, produktif dan bunda sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Mempraktekkan ilmu Tazkiyatunnafs, Bunda Saleha, bunda cekatan, produktif dan bunda sayang
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Mendalami ilmu Tazkiyatunnafs, Bunda Saleha, bunda cekatan, produktif dan bunda sayang
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai ilmu Tazkiyatunnafs, Bunda Saleha, bunda cekatan, produktif dan bunda sayang

e.     Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
Jawab:
Seperti yang sudah saya buat pada NHW#2, saya sudah mencantumkan apa-apa saja misi-misi untuk mewujudkan visi saya dalam universitas kehidupan ini.

f.       Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan
Sekarang buatlah sejarah anda sendiri.

Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0
Jawab:
Insya Allah Bismillaahirrahmaanirrahiim…Semoga Allah memudahkan niat baik saya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan menjadi manusia yang bermanfaat di dunia ini.
Aamiin...ya Rabbal Alamin.



Kamis, 25 Mei 2017

Nice Home Work Part 2 (Indikator Ibu Profesional)

Bismillah...pekan kedua di bulan ini kembali saya kana memposting tugas dari kelas Matrikulasi IIP. Jadi, kali ini kami diminta untuk membuat indikoator Ibu Profesional sesuai materi yang telah diberikan. Berikut Indikator yang telah saya buat; jika ingin lebih jelas klik di sini --> https://drive.google.com/open?id=0B_fl96MC6vjoM1NLWGpyMFJlNW8
Ket: Merahmuda= Individu
        Hijau= Istri
        Kuning= Ibu

Kamis, 18 Mei 2017

Nice HomeWork #NHW1

Bismillahirrahmanirrahim,
Lama tak membuka blog ini, untuk kedepannya mungkin saya akan sering2 nge-post karena Alhamdulillah tahun ini saya bisa bergabung di kelas Martikulasi IIP( Institut Ibu Profesional). Gimna? Keren kaaan! Hehe. Nah, kali ini saya akan mengerjakan NHW (Nice HomeWork) perdana yang akan saya tuliskan di bawah ini. Cekidoot...
1.     Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini?
Empat tahun saya belajar tentang Ilmu Psikologi seperitnya memang belum cukup, sebenarnya saya ingin melanjutkan ke jenjang lebih tinggi namun...saya lebih memilih menjadi Ibu Rumah Tangga (meskipun menikah bukanlah penghalang untuk melanjutkan study, tapi untuk tipikal seperti saya, saya harus fokus mendidik anak-anak dan berbakti pada suami) dan apalagi suami saya memiliki profesi yang dari dulu saya cita-citakan yaitu seorang Psikolog. Nah, untuk jawaban saya kali ini  ilmu yang akan saya tekuni adalah ilmu agama islam..sebab, ilmu ini tidak akan ada habisnya dan tidak akan bisa saya selesaikan meskipun ajal telah menjemput. Jadi, saya senang mengcombine antara psikologi dan ilmu agama islam.
2.  Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
Karena kita hidup di dunia hanya sementara jadi, ketika saya menekuni ilmu ini serta mengaplikasikannya tidak hanya bermanfaat untuk di dunia namun bermanfaat untuk akhirat. Serta sangat bermanfaat untuk anak-anak saya. Di samping itu ilmu psikologi yang telah saya dapatkan pun bisa diterapkan dimana saja.

3.       Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?
Tiap selesai sahalat subuh saya dan suami mengkaji satu buku/ kitab per bab atau per tema tiap hari. Untuk durasi waktu tergantung kemampuan kami sebab selain referensi dari buku saya juga membaca artikel-artikel atau tafsir ayat/hadist dari berbagai media online. Untuk ilmu psikologi cukup mengaplikasikan apa yang telah kami dapatkan dari bangku kuliah dan mengikuti seminar-seminar yang berkaitan dengan hal tersebut (terutama tentang parenting).

4.       Berkaitan dengan adab menuntut  ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Untuk Pribadi, meluruskan niat lillahi ta’ala di samping untuk mencerdaskan anak-anak saya dan menjadi bekal untuk akhirat. selain itu istiqamah dalam menuntut ilmu tidak sekedar dapat ilmu lalu tidak mengaplikasikan apalgi membagi-bagi ilmu yang telah di dapatkan.
Untuk ilmu itu sendiri, berusaha mendapatkan ilmu yang sahih. Jelas sumber dan perawinya serta tidak asal comot ketika mendapatkan informasi dari berbagai media online.

Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan tugas perdana ini, semangat para pejuang Ilmu :D.

Minggu, 01 Mei 2016

Oleh-oleh seminar "Quantum Qur'an Parenting".



Quantum Qur’aniq Parenting. (Grand Celino Hotel,1 Mei 2016)


“Didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”. Begitulah kira-kira kata–Ali Bin Abi Thalib- tentang parenting.
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, saya bisa menjadi salah satu dari peserta seminar ini, berikut ada sedikit oleh-oleh yang saya bawa pulang dari seminar tersebut, semoga bermanfaat.  :D
Ketika memasuki ruang seminar, saya sedikit terlambat. Sehingga, saya tidak mengikuti dari awal tapi saya langsung berusaha focus apa yang sedang disampaikan pemateri pertama (Uzt.DRG. Muhammad Syafaat). Karena saya tidak mengikuti secara keseluruhan maka saya juga browsing mengenai penjelasan dari slide tersebut. Jelasnya pada slide yang ditampilkan mengenai bagaimana perlakuan kita terhadap anak sesuai usianya (Parenting ala Ali bin Abi Thalib):
1.       Usia 0-7 Tahun àAnak sebagai raja. Melayani anak pada usia ini melakukannya dengan tulus dan sepenuh hati. Banyak hal kecil yang kita lakukan akan berdampak luar biasa ketika mereka dewasa. Misalnya, ketika mereka meminta tolong membukakan penutup botol maka segera mungkin kita membantu membukanya. Sehingga, ketika dewasa kita meminta tolong padanya anak juga akan segera membantu kita. Ketika kita tanpa bosan berusaha keras mengusapnya, membelai hingga ia tertidur pulas. Maka betapa senangnya kita saat di usia yang makin menua ia memijat atau membelai punggung kita saat kita merasakan lelah dan sakit.
2.       Usia 8-14 Tahun àAnak sebagai tawanan. Pada usia ini sangat tepat jika anak sudah mulai diberikan hak dan kewajiban tertentu. Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak pada usia 7 tahun, jika tidak ia lakukan maka kita boleh memukulnya atau memberikan hukuman seperlunya. Pada usia ini kita sudah mulai mengajarkan kepada anak tentang hukum-hukum agama. Misalanya, Shalat tepat 5 waktu dan wajib untuk para lelaki shalat berjama’ah di masjid, Menutup aurat, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, membantu pekerjaan rumah tangga sesuai usianya dan mulai menerapkan kedisiplinan (memberikan reward/punishment).
3.       Usia 15-21 Tahun à Anak sebagai sahabat. Disinilah kita sudah bisa berbicara dari hati ke hati. Pada usia ini anak sudah memasuk akhil baligh. Kita mulai menjelaskan perubahan-perubahan apa saja yang ada pada mereka. Mulai dari perubahan secara fisik, mental spiritual, social budaya dan lingkungan. Dan menjelaskan bahwa pada saat ini anak sudah memilki buku catatan amalan sendiri yang akan ia tanggungjawabkan di akhirat kelak. Anak pun sudah bisa diberikan tanggungjawab yang lebih berat lagi.
Setelah penjelasan tersebut kita break sahalat ashar, lalu dilanjutkan dengan pemateri kedua (Uzt. Muahammad Natsir).
Pemateri menceritakan perihal dirinya dan bagaimana ia mendidik anak-anaknya. Beliau memiliki 3 anak, anak pertama (15 th meghafal di usia 8 tahun) kedua (13 th menghafal di suia 10 tahun) sudah mampu menghafal Qur’an sejak usia mereka mencapai 10 tahun dan yang luar biasanya lagi backround orang tua mereka bukan pelaku agama tapi seorang pendaki gunung dan manager sekolah Musik. Namun, demi niatnya untuk menjadikan anaknya menjadi ahli Qur’an dan mulai berinfaq dijalan Allah dan meninggalkan pekerjaan tersebut.  
Anak yang terakhir usianya masih 1 tahun 3 bulan dan di usianya 12 jam ia sudah dibawa ke masjid shalat subuh berjama’ah. Masya Allah it’s crazy, sebab org sukses memang selalu melakukan hal-hal gila yang di luar kepala. Dan banyak hal gila lagi yang ia lakukan, seperti mewakafkan rukonya yang sudahdi beli untuk tadabbur Qur’an, dan malah tempat tinggalnya hanya kontrakan. Dan yang terlihat dari anak ketiga yaitu bagaimana refleksi terhadap Al-Qur’an, betapa antusiasnya ketika mendengar orang mengaji dia pun menggerak-gerakkan tangannya, ketika mendapati Al-Qur’an dia seolah-olah komat kamit bersuara tak jelas seperti orang mengaji sambil menggerakkan tangannya, karena setiap hari iaikut belajar menhafalQur’an dengan metode Keisa.
Sejak dini beliau memang mengajarkan anak-anaknya untuk shalat tepat waktu dan berjama’ah di masjid, belajar melakukan sunnah, contohnya bersedekah. Sabda Rasulullah “Makanlah dari sebagian reskimu”. Maka ketika anaknya diberi uang saku Rp 20.000 maka separuhnya (Rp 10.000) disedekahkan. Lalu begitu seterusnya…
Bertutur kata dan bersikap yang baik terhadap anak, belajar untuk selalu menanamkan hal-halal positif dalam diri anak, dan  menjadi Tauladan terhadap anak-anak. Sehingga ikatan emosional tercipta dengan sangat erat. Ketika anak mula mendurhakai orang tua, sebaiknya segera kita intropeksi diri…apakah yang telah kita ajarkan sudahkah pantas untuk mereka  atau tidak, hal ini mengenai tentang larangan dan perintah (terlepas dari factor pengaruh lingkungan dan social budaya).
Rangkuman sesi Sharing
Bagaimana mendidik anak dan istri?
Mendidik istri susah-susah gampang di banding mendidik anak, maka disarankan untuk kedua orang tua terlebih dahulu focus medidik si anak, sehingga sedikit demi sedikit istri akan mengikut (jika sadar terhadap perannya sebagai madrasah utama). Beliau bercerita bahwa istrinya dalam hal ibadah tidak bagus-bagus amat tapi untuk segala keperluan suami dan anak disiapkan sehingga sang suami (Uztd. Natsir) seperti raja, tak perlu melakukan banyak hal di rumah, tak perlu mempersiapkan segala sesuatu jika akan bepergian. Ternyata hal tersebut sangat luar biasa bagi suami. Dan Alhamdulillah sedikit demi sedikit istri dan beliau pun semakin memperbaiki diri.
Bagaimana membuat anak bisa menghafal Qur’an?
Untuk seorang anak di usia yang masih sangat minim akan sangat menyukai gerakan atau berlari, tak ada kelelahan jika ia bermain sepanjang hari. Sehingga metode mengahafalnya pun harus sesuai dengan usianya, jangan membuat anak menghafal dengan berdiam diri, bisa sambil bermain dan berlarian… sekarang sudah banyak metedo menghafal yang kita bisa dapatkan (mis. Metode Kaisa, menghafal dengan gerakan) Jadi, seorang anak tidak sekedar menghafal tapi mereka harus tau makna dari hafalannya.
Bagaimana membuat anak bisa shalat berjama’ah di masjid?
Tidak boleh ada paksaan dalam hal ini, maka dari itu kita tadi sudah mengetahui bahwa perkenalkan mereka dengan masjid, ajar mereka untuk mencintai masjid. Makax, ketika banyak anak-anak dimasjid berlarian, bermain tegur seperlunya bukan malah menyuruh mereka keluar dari masjid. Perintah anak ke masjid tidak sekedar memerintah saja, tapi dilakukan bersama-sama. Jika ayah masih diluar rumah bisa dititipkan kepada tetangga, bisa pula sang ibu yang bersama-sama ke masjid (tergantung situasi dan kondisi, kreativitas ortu masing-masing).
Perlu diketahui bahwa, meberikan perhatian terus menerus kepada anak, memberikan pujian, dan di akhir perhatian tersebut kita bisa menyelipkan sebuah perintah “nak, ingat shalat tepat waktu yah!”, “nak, ingat selalu mengaji yah!”. In Sya Allah kalimat tersebut akan membekas di hati anak-anak kita.
Bagaimana aturan Menonton TV untuk anak?
Mnegenai sikap orang tua terhadap benda tersebut banyak caranya, ada orang tua yang memang meniadakan TV ada pula yang membatasi tontonan apa saja yang bisa disaksikan oleh anak. Menurut pemateri, TV yang sudah terlanjur ada di rumah tidak perlu langsung di buang atau dilenyapkan dari hadapan akan-anak, namun para ortu bisa membuat MoU atua peraturan-peraturan siaran apa saja yang patut di tonton, dan tidak. Semuanya diberi penjelasan, tidak sekedar melarang.
Tambahan dari pemateri pertama, jika ingin mendapatkan uang jutaan, puluhan juta hingga trlyunan maka bersiap pula kita mensedekahkan jutaan,puluhan juta hingga trilyunan.

Ada tiga hal penting yang bisa saya jadikan pelajaran dari materi dan sesi sharing tersebut.
1.       Anak tidak sekedar di doakan, di usahakan untuk menghafal Al-Qur’an. Tapi, menjadi Ahli Al-Qur’an.
2.       Ternyata hal-hal sepele menurut saya ( menyiapkan segala keperluan anak dan suami, saya rasa memang seperti itulah tugas istri ) yang dilakukan para istri merupakan hal luar biasa untuk suami, apalagi ketika kita berbuat lebih untuk suami.
3.       Saya harus semakin giat belajar, bekerja keras bagaimana bisa menjadi ibu dan istri yang selau bertutur dan bersikap baik dan benar sesuai Al-Qu’ran dan As-Sunnah sehingga kelak yang diingat oleh anak-anak adalah hal-hal positif.
ohh iya, tambah lagi... apa pun backround kita, pekerjaan, asal usul, kalau niatnya karena Allah ikhtiar dan tawakkal jalan terus semua anak bisa jadi Ahli Qur'an. In sya Allah

Sekian sedikit oleh-oleh dari saya, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat semoga apa yang telah saya paparkan bermanfaat untuk para pembaca.:D

Ada dua buku Rekomended yang bisa kalian baca, tapi hanya satu yang sempat saya beli judulnya" Masuk Surga Sekeluarga"oleh KH.Bachtiar Natsir.
                                                         Ini bukunya + free  VCD Ceramah
                                   Inna, sy, dan Ica kami yang Janjian menghadiri acara hehe
                           Suasana saat acara berlangsung, oh sepertinya ini saat pengisi acara melantunkan suaranya "kun Anta" by Asykar Moesa.


-In-
09.49 AM.
Bed Room, 3 Mei 2016.

Kamis, 18 Februari 2016

Dua Insan Bersatu


                                               Ayah, Ibu, Iin, YazZ, Mama dan Bapak
Hari sakral di hari sabtu, 5 Desember 2015 tepat seorang Bapak separuh baya menyerahkan anak pertamanya  dengan penuh isak dan haru biru kepada seorang lelaki soleh In ya Allah.
Pada saat itu pula, seluruh tanggungjawab diserahkan kepada sang suami. Betapa hancur hati para syaitan menyaksikan ikatan suci tersebut. Lantunan Do’a-do’a dari para karib dan keluarga beserta para malaikat memuji dan mengaminkan seluruh Do’a.
Bahagia, yah..siapa yang tak bahagia pada hari itu? para tamu berdatangan dari penjuru kecamatan dan kabupaten. Satu persatu memberikan selamat dan tak lupa mendokumentasikan wajah ceria mereka.
Allah tidak akan pernah salah dalam perihal jodoh, ia akan mempertemukan seorang lelaki dan perempuan yang tepat  di waktu yang tepat.  Ingat kalimat ini? “akan indah pada waktunya”, yah kalian pasti akan merasakan masa itu, yang kita perlukan hanyalah sabar menanti ketentuan Sang Penentu dan tak lupa terus berbaik sangka atas apa yang ditimpakan kepada kita.

Sejak saat itu pula sang istri wajib taat pada suaminya melebihi ibu bapaknya. Istri juga perlu tahu bahwa suami wajib mendahului ibu bapak dibanding istrinya. Lalu, kedua pasangan pun wajib tau bahwa orang tua mereka bertambah dan sama kedudukannya.

Selepas hari bahagia itu, yang dulunya selalu melakukan sendiri kini menjadi berdua. Hal yang dulunya haram kini menjadi halal, bahkan menjadi sebuah ibadah yang akan didokumentasikan oleh Malaikat Rakib. Menikah bukan mencari kebahagiaan semata, namun sebagai ladang pahala bagi mereka yang betul-betul menjalani dengan penuh ketulusan dan kesabaran.  Sebab, ada dua kepala yang harus saling menyatukan frekuensi. Ilmu komunikasi, memahami, menyayangi, menghormati, mencintai, memaafkan, mengalah dan seterusnya akan sering-sering kita aplikasikan. Learning by Doing, meskipun kita butuh sharing kepada orang tua/sahabar kita, tapi… yang paling penting adalah belajarlah dari apa yang kita alami, sebab akan lebih membekas. Dan yang paling penting, jangan pernah membanding-bandingkan rumah tangga orang lain. Fokus saja pada masa depan keluarga kecilmu.

Hari ini usia pernikahan kami masih sangat muda, 2 month 2 week :). Dan Alhamdulillah sedang mengalami morning sick trisemester pertama yang usianya sudah 10 week ^_^.
Postingan selanjutnya, saya akan meceritakan pengalaman hamil pertama saya, agak sedikit mengkhawatirkan sebenarnya. Tapi, saya dan suami tetap berpasangka baik padaNya.

BedRoom, 19 Februari 2016
15.41.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Cita-citaku



Kau memiliki masa lalu Begitu pun Aku Di saat kau benar-benar memilihku dan aku menerimamu Di saat itu pula.. Masa lalu menjelma menjadi masa depan Aku tidak peduli dengan segenap masa lalumu Tak akan ku usik sebab ada hikmah dibaliknya, Yang aku tau ketika KAU, AKU menjadi KITA
Tugasku adalah Patuh padamu, Percaya katamu, Pahami inginmu, Mengerti rasamu, Tentramkan jiwamu,
Padamkan amarahmu, Bahagiakan dirimu, Doakanmu selalu dan Melahirkan anak-anakmu... Karena surgaku ada dibawah telapak kakimu kiki emotikon
*Siapa pun dirimu yg akan ditakdirkan Allah untukku. In sya Allah
-Ien
(Jum'at, 21 Agt 2015. 12:24 AM)

Air di Pelupuk Mata

Waktu yang diijabah terlelapnya para pecinta dunia Mereka yang berharap dan meminta menghampar tumpuan sahaya saat bangkit akan terliha...