Quantum Qur’aniq Parenting. (Grand Celino
Hotel,1 Mei 2016)
“Didiklah
anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”. Begitulah kira-kira kata–Ali
Bin Abi Thalib- tentang parenting.
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, saya bisa
menjadi salah satu dari peserta seminar ini, berikut ada sedikit oleh-oleh yang
saya bawa pulang dari seminar tersebut, semoga bermanfaat. :D
Ketika memasuki ruang
seminar, saya sedikit terlambat. Sehingga, saya tidak mengikuti dari awal tapi saya
langsung berusaha focus apa yang sedang disampaikan pemateri pertama (Uzt.DRG.
Muhammad Syafaat). Karena saya tidak mengikuti secara keseluruhan maka saya
juga browsing mengenai penjelasan dari slide tersebut. Jelasnya pada slide yang
ditampilkan mengenai bagaimana perlakuan kita terhadap anak sesuai usianya
(Parenting ala Ali bin Abi Thalib):
1.
Usia
0-7 Tahun àAnak sebagai raja. Melayani
anak pada usia ini melakukannya dengan tulus dan sepenuh hati. Banyak hal kecil
yang kita lakukan akan berdampak luar biasa ketika mereka dewasa. Misalnya,
ketika mereka meminta tolong membukakan penutup botol maka segera mungkin kita
membantu membukanya. Sehingga, ketika dewasa kita meminta tolong padanya anak
juga akan segera membantu kita. Ketika kita tanpa bosan berusaha keras
mengusapnya, membelai hingga ia tertidur pulas. Maka betapa senangnya kita saat
di usia yang makin menua ia memijat atau membelai punggung kita saat kita
merasakan lelah dan sakit.
2.
Usia
8-14 Tahun àAnak
sebagai tawanan. Pada usia ini sangat tepat jika anak sudah mulai diberikan hak
dan kewajiban tertentu. Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak pada
usia 7 tahun, jika tidak ia lakukan maka kita boleh memukulnya atau memberikan
hukuman seperlunya. Pada usia ini kita sudah mulai mengajarkan kepada anak
tentang hukum-hukum agama. Misalanya, Shalat tepat 5 waktu dan wajib untuk para
lelaki shalat berjama’ah di masjid, Menutup aurat, menjaga pergaulan dengan
lawan jenis, membantu pekerjaan rumah tangga sesuai usianya dan mulai
menerapkan kedisiplinan (memberikan reward/punishment).
3.
Usia
15-21 Tahun à
Anak sebagai sahabat. Disinilah kita sudah bisa berbicara dari hati ke hati. Pada
usia ini anak sudah memasuk akhil baligh. Kita mulai menjelaskan perubahan-perubahan
apa saja yang ada pada mereka. Mulai dari perubahan secara fisik, mental spiritual,
social budaya dan lingkungan. Dan menjelaskan bahwa pada saat ini anak sudah
memilki buku catatan amalan sendiri yang akan ia tanggungjawabkan di akhirat
kelak. Anak pun sudah bisa diberikan tanggungjawab yang lebih berat lagi.
Setelah penjelasan tersebut
kita break sahalat ashar, lalu dilanjutkan dengan pemateri kedua (Uzt.
Muahammad Natsir).
Pemateri
menceritakan perihal dirinya dan bagaimana ia mendidik anak-anaknya. Beliau
memiliki 3 anak, anak pertama (15 th meghafal di usia 8 tahun) kedua (13 th
menghafal di suia 10 tahun) sudah mampu menghafal Qur’an sejak usia mereka mencapai
10 tahun dan yang luar biasanya lagi backround orang tua mereka bukan pelaku
agama tapi seorang pendaki gunung dan manager sekolah Musik. Namun, demi
niatnya untuk menjadikan anaknya menjadi ahli Qur’an dan mulai berinfaq dijalan
Allah dan meninggalkan pekerjaan tersebut.
Anak yang
terakhir usianya masih 1 tahun 3 bulan dan di usianya 12 jam ia sudah dibawa ke
masjid shalat subuh berjama’ah. Masya Allah it’s crazy, sebab org sukses memang
selalu melakukan hal-hal gila yang di luar kepala. Dan banyak hal gila lagi
yang ia lakukan, seperti mewakafkan rukonya yang sudahdi beli untuk tadabbur
Qur’an, dan malah tempat tinggalnya hanya kontrakan. Dan yang terlihat dari
anak ketiga yaitu bagaimana refleksi terhadap Al-Qur’an, betapa antusiasnya
ketika mendengar orang mengaji dia pun menggerak-gerakkan tangannya, ketika
mendapati Al-Qur’an dia seolah-olah komat kamit bersuara tak jelas seperti
orang mengaji sambil menggerakkan tangannya, karena setiap hari iaikut belajar
menhafalQur’an dengan metode Keisa.
Sejak dini
beliau memang mengajarkan anak-anaknya untuk shalat tepat waktu dan berjama’ah
di masjid, belajar melakukan sunnah, contohnya bersedekah. Sabda Rasulullah “Makanlah
dari sebagian reskimu”. Maka ketika anaknya diberi uang saku Rp 20.000 maka separuhnya
(Rp 10.000) disedekahkan. Lalu begitu seterusnya…
Bertutur kata
dan bersikap yang baik terhadap anak, belajar untuk selalu menanamkan hal-halal
positif dalam diri anak, dan menjadi
Tauladan terhadap anak-anak. Sehingga ikatan emosional tercipta dengan sangat
erat. Ketika anak mula mendurhakai orang tua, sebaiknya segera kita intropeksi
diri…apakah yang telah kita ajarkan sudahkah pantas untuk mereka atau tidak, hal ini mengenai tentang larangan
dan perintah (terlepas dari factor pengaruh lingkungan dan social budaya).
Rangkuman sesi Sharing
Bagaimana
mendidik anak dan istri?
Mendidik istri
susah-susah gampang di banding mendidik anak, maka disarankan untuk kedua orang
tua terlebih dahulu focus medidik si anak, sehingga sedikit demi sedikit istri
akan mengikut (jika sadar terhadap perannya sebagai madrasah utama). Beliau
bercerita bahwa istrinya dalam hal ibadah tidak bagus-bagus amat tapi untuk
segala keperluan suami dan anak disiapkan sehingga sang suami (Uztd. Natsir)
seperti raja, tak perlu melakukan banyak hal di rumah, tak perlu mempersiapkan
segala sesuatu jika akan bepergian. Ternyata hal tersebut sangat luar biasa
bagi suami. Dan Alhamdulillah sedikit demi sedikit istri dan beliau pun semakin
memperbaiki diri.
Bagaimana
membuat anak bisa menghafal Qur’an?
Untuk seorang
anak di usia yang masih sangat minim akan sangat menyukai gerakan atau berlari,
tak ada kelelahan jika ia bermain sepanjang hari. Sehingga metode mengahafalnya
pun harus sesuai dengan usianya, jangan membuat anak menghafal dengan berdiam
diri, bisa sambil bermain dan berlarian… sekarang sudah banyak metedo menghafal
yang kita bisa dapatkan (mis. Metode Kaisa, menghafal dengan gerakan) Jadi,
seorang anak tidak sekedar menghafal tapi mereka harus tau makna dari
hafalannya.
Bagaimana
membuat anak bisa shalat berjama’ah di masjid?
Tidak boleh ada
paksaan dalam hal ini, maka dari itu kita tadi sudah mengetahui bahwa
perkenalkan mereka dengan masjid, ajar mereka untuk mencintai masjid. Makax,
ketika banyak anak-anak dimasjid berlarian, bermain tegur seperlunya bukan
malah menyuruh mereka keluar dari masjid. Perintah anak ke masjid tidak sekedar
memerintah saja, tapi dilakukan bersama-sama. Jika ayah masih diluar rumah bisa
dititipkan kepada tetangga, bisa pula sang ibu yang bersama-sama ke masjid
(tergantung situasi dan kondisi, kreativitas ortu masing-masing).
Perlu diketahui
bahwa, meberikan perhatian terus menerus kepada anak, memberikan pujian, dan di
akhir perhatian tersebut kita bisa menyelipkan sebuah perintah “nak, ingat
shalat tepat waktu yah!”, “nak, ingat selalu mengaji yah!”. In Sya Allah
kalimat tersebut akan membekas di hati anak-anak kita.
Bagaimana
aturan Menonton TV untuk anak?
Mnegenai sikap
orang tua terhadap benda tersebut banyak caranya, ada orang tua yang memang
meniadakan TV ada pula yang membatasi tontonan apa saja yang bisa disaksikan
oleh anak. Menurut pemateri, TV yang sudah terlanjur ada di rumah tidak perlu
langsung di buang atau dilenyapkan dari hadapan akan-anak, namun para ortu bisa
membuat MoU atua peraturan-peraturan siaran apa saja yang patut di tonton, dan
tidak. Semuanya diberi penjelasan, tidak sekedar melarang.
Tambahan dari
pemateri pertama, jika ingin mendapatkan uang jutaan, puluhan juta hingga
trlyunan maka bersiap pula kita mensedekahkan jutaan,puluhan juta hingga
trilyunan.
Ada tiga hal penting yang
bisa saya jadikan pelajaran dari materi dan sesi sharing tersebut.
1.
Anak
tidak sekedar di doakan, di usahakan untuk menghafal Al-Qur’an. Tapi, menjadi Ahli
Al-Qur’an.
2.
Ternyata
hal-hal sepele menurut saya ( menyiapkan segala keperluan anak dan suami, saya
rasa memang seperti itulah tugas istri ) yang dilakukan para istri merupakan
hal luar biasa untuk suami, apalagi ketika kita berbuat lebih untuk suami.
3.
Saya
harus semakin giat belajar, bekerja keras bagaimana bisa menjadi ibu dan istri
yang selau bertutur dan bersikap baik dan benar sesuai Al-Qu’ran dan As-Sunnah
sehingga kelak yang diingat oleh anak-anak adalah hal-hal positif.
ohh iya, tambah lagi... apa pun backround kita, pekerjaan, asal usul, kalau niatnya karena Allah ikhtiar dan tawakkal jalan terus semua anak bisa jadi Ahli Qur'an. In sya Allah
ohh iya, tambah lagi... apa pun backround kita, pekerjaan, asal usul, kalau niatnya karena Allah ikhtiar dan tawakkal jalan terus semua anak bisa jadi Ahli Qur'an. In sya Allah
Sekian sedikit oleh-oleh
dari saya, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat semoga apa yang
telah saya paparkan bermanfaat untuk para pembaca.:D
Ada dua buku Rekomended yang bisa kalian baca, tapi hanya satu yang sempat saya beli judulnya" Masuk Surga Sekeluarga"oleh KH.Bachtiar Natsir.
Ini bukunya + free VCD CeramahInna, sy, dan Ica kami yang Janjian menghadiri acara hehe
Suasana saat acara berlangsung, oh sepertinya ini saat pengisi acara melantunkan suaranya "kun Anta" by Asykar Moesa.
-In-
09.49 AM.
Bed Room, 3 Mei 2016.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar