Minggu, 01 Mei 2016

Oleh-oleh seminar "Quantum Qur'an Parenting".



Quantum Qur’aniq Parenting. (Grand Celino Hotel,1 Mei 2016)


“Didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”. Begitulah kira-kira kata–Ali Bin Abi Thalib- tentang parenting.
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, saya bisa menjadi salah satu dari peserta seminar ini, berikut ada sedikit oleh-oleh yang saya bawa pulang dari seminar tersebut, semoga bermanfaat.  :D
Ketika memasuki ruang seminar, saya sedikit terlambat. Sehingga, saya tidak mengikuti dari awal tapi saya langsung berusaha focus apa yang sedang disampaikan pemateri pertama (Uzt.DRG. Muhammad Syafaat). Karena saya tidak mengikuti secara keseluruhan maka saya juga browsing mengenai penjelasan dari slide tersebut. Jelasnya pada slide yang ditampilkan mengenai bagaimana perlakuan kita terhadap anak sesuai usianya (Parenting ala Ali bin Abi Thalib):
1.       Usia 0-7 Tahun àAnak sebagai raja. Melayani anak pada usia ini melakukannya dengan tulus dan sepenuh hati. Banyak hal kecil yang kita lakukan akan berdampak luar biasa ketika mereka dewasa. Misalnya, ketika mereka meminta tolong membukakan penutup botol maka segera mungkin kita membantu membukanya. Sehingga, ketika dewasa kita meminta tolong padanya anak juga akan segera membantu kita. Ketika kita tanpa bosan berusaha keras mengusapnya, membelai hingga ia tertidur pulas. Maka betapa senangnya kita saat di usia yang makin menua ia memijat atau membelai punggung kita saat kita merasakan lelah dan sakit.
2.       Usia 8-14 Tahun àAnak sebagai tawanan. Pada usia ini sangat tepat jika anak sudah mulai diberikan hak dan kewajiban tertentu. Rasulullah SAW mulai memerintahkan seorang anak pada usia 7 tahun, jika tidak ia lakukan maka kita boleh memukulnya atau memberikan hukuman seperlunya. Pada usia ini kita sudah mulai mengajarkan kepada anak tentang hukum-hukum agama. Misalanya, Shalat tepat 5 waktu dan wajib untuk para lelaki shalat berjama’ah di masjid, Menutup aurat, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, membantu pekerjaan rumah tangga sesuai usianya dan mulai menerapkan kedisiplinan (memberikan reward/punishment).
3.       Usia 15-21 Tahun à Anak sebagai sahabat. Disinilah kita sudah bisa berbicara dari hati ke hati. Pada usia ini anak sudah memasuk akhil baligh. Kita mulai menjelaskan perubahan-perubahan apa saja yang ada pada mereka. Mulai dari perubahan secara fisik, mental spiritual, social budaya dan lingkungan. Dan menjelaskan bahwa pada saat ini anak sudah memilki buku catatan amalan sendiri yang akan ia tanggungjawabkan di akhirat kelak. Anak pun sudah bisa diberikan tanggungjawab yang lebih berat lagi.
Setelah penjelasan tersebut kita break sahalat ashar, lalu dilanjutkan dengan pemateri kedua (Uzt. Muahammad Natsir).
Pemateri menceritakan perihal dirinya dan bagaimana ia mendidik anak-anaknya. Beliau memiliki 3 anak, anak pertama (15 th meghafal di usia 8 tahun) kedua (13 th menghafal di suia 10 tahun) sudah mampu menghafal Qur’an sejak usia mereka mencapai 10 tahun dan yang luar biasanya lagi backround orang tua mereka bukan pelaku agama tapi seorang pendaki gunung dan manager sekolah Musik. Namun, demi niatnya untuk menjadikan anaknya menjadi ahli Qur’an dan mulai berinfaq dijalan Allah dan meninggalkan pekerjaan tersebut.  
Anak yang terakhir usianya masih 1 tahun 3 bulan dan di usianya 12 jam ia sudah dibawa ke masjid shalat subuh berjama’ah. Masya Allah it’s crazy, sebab org sukses memang selalu melakukan hal-hal gila yang di luar kepala. Dan banyak hal gila lagi yang ia lakukan, seperti mewakafkan rukonya yang sudahdi beli untuk tadabbur Qur’an, dan malah tempat tinggalnya hanya kontrakan. Dan yang terlihat dari anak ketiga yaitu bagaimana refleksi terhadap Al-Qur’an, betapa antusiasnya ketika mendengar orang mengaji dia pun menggerak-gerakkan tangannya, ketika mendapati Al-Qur’an dia seolah-olah komat kamit bersuara tak jelas seperti orang mengaji sambil menggerakkan tangannya, karena setiap hari iaikut belajar menhafalQur’an dengan metode Keisa.
Sejak dini beliau memang mengajarkan anak-anaknya untuk shalat tepat waktu dan berjama’ah di masjid, belajar melakukan sunnah, contohnya bersedekah. Sabda Rasulullah “Makanlah dari sebagian reskimu”. Maka ketika anaknya diberi uang saku Rp 20.000 maka separuhnya (Rp 10.000) disedekahkan. Lalu begitu seterusnya…
Bertutur kata dan bersikap yang baik terhadap anak, belajar untuk selalu menanamkan hal-halal positif dalam diri anak, dan  menjadi Tauladan terhadap anak-anak. Sehingga ikatan emosional tercipta dengan sangat erat. Ketika anak mula mendurhakai orang tua, sebaiknya segera kita intropeksi diri…apakah yang telah kita ajarkan sudahkah pantas untuk mereka  atau tidak, hal ini mengenai tentang larangan dan perintah (terlepas dari factor pengaruh lingkungan dan social budaya).
Rangkuman sesi Sharing
Bagaimana mendidik anak dan istri?
Mendidik istri susah-susah gampang di banding mendidik anak, maka disarankan untuk kedua orang tua terlebih dahulu focus medidik si anak, sehingga sedikit demi sedikit istri akan mengikut (jika sadar terhadap perannya sebagai madrasah utama). Beliau bercerita bahwa istrinya dalam hal ibadah tidak bagus-bagus amat tapi untuk segala keperluan suami dan anak disiapkan sehingga sang suami (Uztd. Natsir) seperti raja, tak perlu melakukan banyak hal di rumah, tak perlu mempersiapkan segala sesuatu jika akan bepergian. Ternyata hal tersebut sangat luar biasa bagi suami. Dan Alhamdulillah sedikit demi sedikit istri dan beliau pun semakin memperbaiki diri.
Bagaimana membuat anak bisa menghafal Qur’an?
Untuk seorang anak di usia yang masih sangat minim akan sangat menyukai gerakan atau berlari, tak ada kelelahan jika ia bermain sepanjang hari. Sehingga metode mengahafalnya pun harus sesuai dengan usianya, jangan membuat anak menghafal dengan berdiam diri, bisa sambil bermain dan berlarian… sekarang sudah banyak metedo menghafal yang kita bisa dapatkan (mis. Metode Kaisa, menghafal dengan gerakan) Jadi, seorang anak tidak sekedar menghafal tapi mereka harus tau makna dari hafalannya.
Bagaimana membuat anak bisa shalat berjama’ah di masjid?
Tidak boleh ada paksaan dalam hal ini, maka dari itu kita tadi sudah mengetahui bahwa perkenalkan mereka dengan masjid, ajar mereka untuk mencintai masjid. Makax, ketika banyak anak-anak dimasjid berlarian, bermain tegur seperlunya bukan malah menyuruh mereka keluar dari masjid. Perintah anak ke masjid tidak sekedar memerintah saja, tapi dilakukan bersama-sama. Jika ayah masih diluar rumah bisa dititipkan kepada tetangga, bisa pula sang ibu yang bersama-sama ke masjid (tergantung situasi dan kondisi, kreativitas ortu masing-masing).
Perlu diketahui bahwa, meberikan perhatian terus menerus kepada anak, memberikan pujian, dan di akhir perhatian tersebut kita bisa menyelipkan sebuah perintah “nak, ingat shalat tepat waktu yah!”, “nak, ingat selalu mengaji yah!”. In Sya Allah kalimat tersebut akan membekas di hati anak-anak kita.
Bagaimana aturan Menonton TV untuk anak?
Mnegenai sikap orang tua terhadap benda tersebut banyak caranya, ada orang tua yang memang meniadakan TV ada pula yang membatasi tontonan apa saja yang bisa disaksikan oleh anak. Menurut pemateri, TV yang sudah terlanjur ada di rumah tidak perlu langsung di buang atau dilenyapkan dari hadapan akan-anak, namun para ortu bisa membuat MoU atua peraturan-peraturan siaran apa saja yang patut di tonton, dan tidak. Semuanya diberi penjelasan, tidak sekedar melarang.
Tambahan dari pemateri pertama, jika ingin mendapatkan uang jutaan, puluhan juta hingga trlyunan maka bersiap pula kita mensedekahkan jutaan,puluhan juta hingga trilyunan.

Ada tiga hal penting yang bisa saya jadikan pelajaran dari materi dan sesi sharing tersebut.
1.       Anak tidak sekedar di doakan, di usahakan untuk menghafal Al-Qur’an. Tapi, menjadi Ahli Al-Qur’an.
2.       Ternyata hal-hal sepele menurut saya ( menyiapkan segala keperluan anak dan suami, saya rasa memang seperti itulah tugas istri ) yang dilakukan para istri merupakan hal luar biasa untuk suami, apalagi ketika kita berbuat lebih untuk suami.
3.       Saya harus semakin giat belajar, bekerja keras bagaimana bisa menjadi ibu dan istri yang selau bertutur dan bersikap baik dan benar sesuai Al-Qu’ran dan As-Sunnah sehingga kelak yang diingat oleh anak-anak adalah hal-hal positif.
ohh iya, tambah lagi... apa pun backround kita, pekerjaan, asal usul, kalau niatnya karena Allah ikhtiar dan tawakkal jalan terus semua anak bisa jadi Ahli Qur'an. In sya Allah

Sekian sedikit oleh-oleh dari saya, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat semoga apa yang telah saya paparkan bermanfaat untuk para pembaca.:D

Ada dua buku Rekomended yang bisa kalian baca, tapi hanya satu yang sempat saya beli judulnya" Masuk Surga Sekeluarga"oleh KH.Bachtiar Natsir.
                                                         Ini bukunya + free  VCD Ceramah
                                   Inna, sy, dan Ica kami yang Janjian menghadiri acara hehe
                           Suasana saat acara berlangsung, oh sepertinya ini saat pengisi acara melantunkan suaranya "kun Anta" by Asykar Moesa.


-In-
09.49 AM.
Bed Room, 3 Mei 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Air di Pelupuk Mata

Waktu yang diijabah terlelapnya para pecinta dunia Mereka yang berharap dan meminta menghampar tumpuan sahaya saat bangkit akan terliha...